Senin, 26 September 2011

(judulnya apa ya)

            Aku siswa baru di SMAN 9 Jakarta. Namaku Asiah izzati. Aku mencari kelas bertuliskan X1. Kucari tanpa memandang makhluk makhluk asing sekitar. Aku tak peduli karena aku tidak mengenal mereka.
            Aku pun masuk dengan perasaan dag-dig-dug. Mencoba memahami bagaimana lingkungan yang akan aku jalani 3 tahun ke depan. Kelas ini terasa hangat, aku mencium aroma wangi dari sikap sikap mereka. Mereka baik, mereka seperti calon pemimpin peradaban.
            Seseorang dari 30 orang, aku memandangnya dengan cukup dalam. Aku melihat tulisan nama di bajunya, nama lengkapnya, Mijilakama Jeraldi. Tetapi langsung kutundukkan wajahku saat pandangan itu bertemu. Astaghfirullah, ucapku dalam hati. Dia berwibawa, tidak banyak bicara dan murah senyum. Subhanallah, batinku.
            Mulai sejak itu, kutulis puisi puisi tentang dia. Dia yang akan terus menjadi bintang, yang tidak akan pernah bisa digapai oleh seorang katak melompat-lompat terus menerus.entah sampai kapan..

Dia
Yang duduk disana
Yang dengan polosnya bercanda bersama mereka
Sesosok berbadan tegas
Yang berbuat angkuh dengan sikapnya
Dengan lugu dan cueknya dalam segala hal
Misterius
Aku hanya bisa memandangnya
Pandangan kosong
Tapi memilik makna
Sudah dan sudah
Mencoba melupakan
Biar hati dan Yang Maha Kuasa yang tau
Tapi kenapa
Terlalu bodohnya diri ini
Hasrat membawaku kedalam perasaan yang berlubang hitam
Aku bangun dari lamunanku
Aku terlalu menginginkan sesosok misterius itu
Pikiran ku menolak sesuai dengan logika pikiran berkata
Tapi hati selalu menang sesuai dengan perasaan hati nurani
Dia
Yang selalu memisteriuskan diri dengan sikapnya yang diam dan damai
Dingin dan acuh tak acuh
Ya benar itu Dia!
Mungkin aku tak mengenalnya
Tapi aku mengetahuinya

           
Hari demi hari kuhabiskan waktuku untuk mencari tahu siapa dia, bagaimana dia, apapun tentang dia. Akupun berusaha menjadi lebih baik untuk dia. Setiap malam, aku melihat rembulan lalu tersenyum membayangkan semua yang terjadi. Keindahan  langit malam sama dengan indahnya bertemu dengannya. Perasaan ini memang nggilani dan alay.

Saat bersandar di halaman, “aha!” teriakku. Aku punya nama yang pas untuknya, “tiga”. Itu simbol untuknya karena aku suka angka 3.

Berbulan bulan aku bertahan dengan perasaan ini. Perasaan yang masih sama seperti awal aku memilikinya. Aku bertahan, terkadang hanya perasaan ini lah yang membuatku semangat. Aku tau, ini sudah melebihi batas. Tapi, apa daya, aku tidak bisa menghindarinya.

            Aku adalah seorang anak yang kesepian sebatang kara yang tinggal di kota ramai penuh kejahatan. Tetapi semua kebutuhanku berkecukupan. Jadi ketika pulang sekolah, jika aku kesepian, aku akan menulis puisi yang aku tulis di blog ku. Puisi tentangnya yang membawaku untuk terus bersemangat setiap harinya.

            15 agustus, umurku genap 16 tahun. Aku bermaksud merayakannya. Aku mengundang semua teman-temanku termasuk “tiga”. Aku melihatnya menggandeng cewek berwajah imut, dia cantik, sangat cocok untuk mendampinginya. Aku pun tidak bisa terlepas dari rasa cemburu. Tapi aku suka wajah cerianya, aku suka bahagianya. Mampukah aku untuk berkorban ?
Perasaanku hancur saat itu juga.

            Malam ini rembulan tidak tersenyum. Bintang pun tak ada. Langit tak seindah biasanya. Mungkinkah ini harus berakhir?

            Aku pun mulai menyiksa diriku secara tidak sadar, aku tidak makan, bahkan tidak sholat, aku melamun. Sekarang aku seperti mayat hidup yang berjalan. Kurus kering kerontang yang seakan tidak punya masa depan.
           
            Bel sekolah berbunyi, hampir saja aku telat. Tapi untung saja. Ketika aku berdiri di pintu kelas, aku melihat kerumunan mengerumuni mejaku, termasuk “tiga”. OH TIDAK ! PUISIKU BERSERAKAN DI MEJAKU ! ADA NAMA SI “TIGA” ! JAMBRET !

            Aku malu, aku bingung harus berbuat apa. Semua mata tertuju padaku. Aku pun duduk dengan ragu ragu, ditambah lagi aku kebelet BAB. GILA! MINGGU SIALKU!
Si “tiga” yang biasanya duduk di depanku, tiba tiba saja pindah ke meja terjauh dariku. Aku pun mengernyutkan dahi, aku mengelus dada. Sakit…rasanya…
Semua pelajaran hari itu, konsentrasiku menghilang. Mukaku pucat karena tidak makan dan stress.
            Aku pun mengendarai mobil BMW ku dengan kecepatan tertinggi. Aku kesal, aku capek, aku lelah sama semua ini. Tiba tiba ada sepeda motor yang berada di depanku dan……aku tidak ingat apa apa.



Jam bekerku berbunyi, sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Akupun bergegas untuk berangkat ke sekolah. Entah mengapa, pagar terbuka lebar untukku. Suasana sekolah juga tenang tenang saja. Dan kagetnya, si “tiga”  memilih untuk duduk di sebelahku. Dia selalu memberikan senyumnya kepadaku. Entah kenapa dia begitu. Apa dia mengetahui bagaimana perasaanku kepadanya ? apa dia juga memiliki perasaan yang sama ?
           
            Semua pelajaran bisa aku pahami dengan cepat. Ketika aku tidak bisa, dia mau mengajariku dengan sabar hingga aku mengerti. Dia memberiku hal hal yang baik. Kita ke perpustakaan untuk mencari referensi tugas berdua. DIa membawakan bukuku karena aku keberatan. Dia seperti apa yang selalu kunantikan..aku inginkan.. Dia hangat sekali, tidak seperti biasanya yang dengan cueknya merasuk kedalam kekentalan sikapnya yang khas, dingin.

            Aku tersenyum dengan damainya, hari yang indah dengan sinar matahari tersenyum kepadaku dan awan yang memelukku.

            Tiba tiba lampu mati, tapi tak ada yang menjerit.


            Aw aw aw banyak perban di sekujur tubuhku. Wajahku terasa lebam. Kakiku tanpa rasa. Tetapi hatiku senang, seakan ada yang mendorong untuk melawan ini semua, untuk semangat. Aku mencubit tanganku dengan tertatih tatih. “sakit!”. Ini nyata. Berarti tadi.. tidak mungkin. Ini yang mimpi, tadi itu kenyataan. Aku seperti orang gila, bagai induk kehilangan anaknya.

            Aku menangis tapi tak ada yang menghiraukan. Tiba-tiba si “tiga” datang sendirian, dia membawa bunga. Aku senang…tetapi… dia berkata ,” aku telah membaca semua puisi-puisimu, puisi puisi yang kamu jilid semua aku baca, aku tau disitu ada fotoku kan. Aku menghargai semuanya. Tetapi aku minta maaf, aku telah mempunyai yang lain. Yang mungkin jauh lebih baik dari kamu. Aku tau kamu baik, tetapi dia lebih baik, maaf ya za.. ”
Aku menahan air mataku yang keluar dan berusaha untuk tetap tersenyum, “ gakpapa.. : ) “
Kemudian si “tiga” itu pergi dan aku memegang bunga yang diiberikannya, mungkin untuk yang terakhir kali.

            Kakiku mati rasa. Ketika aku membuka selimut, aku sangat kaget. Kakiku hilang. Aku teriak dan menangis. Sekarang, semua terasa berat di kepala dan hatiku. Tidak ada yang menemani, masalah datang bertubi tubi. Mungkin aku terlalu jauh dariNya. Tetapi imanku belum kuat. Pikiranku tertuju pada pisau yang tertancap pada buah buah segar itu.

            Dokter pun datang dengan membawa stetoskop. Ketika masuk, dia menemukanku tewas dengan darah terkucur dari tanganku. Semua sudah terlambat, denyut nadiku berhenti.
Dicoba merangsang denyut jantungku, tapi tidak bisa. Meninggal tidak wajar.
Innalillahiwainnaillaihiroji’un

Tidak ada komentar:

Posting Komentar